Kamis, 30 Januari 2014

Arti Cinta Dalam Kehidupan


           Seorang Pria dan wanita yang sedang menjalin hubungan karena perasaan disebut dengan cinta. Cinta tersebut lahir karena kecenderungan dari lawan jenis yang salin membutuhkan dan saling merasa kecocokan. Kemudian setelah dewasa biasanya orang yang merasakan cinta akan timbul kematangan pikiran dan fisik.

          Untuk makna cinta sendiri merupakan kasih sayang, kehormatan, penghargaan atas diri, suatu kerinduan, Bila mencapai puncaknya maka cinta akan mampu membuat suka maupun duka tetap bersama , walaupun lapang maupun sempit.

          Menurut fisik cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik. Namun dalam cinta, yang harus diperhatikan keindahan bentuk dan rupa, hingga yang paling utama yang harus dirasakan adalah sifat atau kepribadian yang dihiasi akhlak yang baik.

Dalam kehidupan sesungguhnya cinta itu dapat dibagi menjadi dua yaitu cinta karena nafsu atau fisik tersebut dan adapula cinta yang suci:

# Cinta Fisik biasanya akan menimbulkan nafsu, biasanya akan lebih banyak lawan jenis yang tersakiti. Bila cinta ini berkelanjutan akan menjadi hal-hal yang buruk mulai dari Hubungan suami istri diluar nikah, penganiayaan, bila sudah menikah berakibat dengan perceraian.

# Cinta Suci biasanya akan lebih memandang akan akhlah yang dimiliki lawan jenis, cinta ini biasanya akan merasakan kasih sayang yang tulus dengan diiringi norma-norma yang berlaku. Bila berakhir dengan pernikahan akan menimbulkan cinta yang istimewa.

          Akhir dari suatu cinta adalah terjalinnya suatu ikatan yang diberinama Pernikahan. Pernikahan adalah suatu perjanjian suci untuk mempersatukan antara pria dan wanita. Dan disinilah puncak dari nikmatnya cinta, ketika kedua orang yang saling mencintai memilih untuk hidup bersama dengan ikatan janji untuk saling berbagi baik suka maupun duka.

PERCERAIAN


                                                      PERCERAIAN
 
Hari ini kita akan melihat tentang pokok perceraian ini dari Alkitab untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang ada dalam pikiran kita. Pertama kita harus melihat sejenak dari awal untuk dapat mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Ini harus dicatat, bahwa saudara tidak dapat bercerai kalau belum menikah. Dalam pernikahan ini sebuah kontrak ditanda-tangani dengan pernyataan bahwa mereka akan tetap mempertahankan pernikahan mereka sampai maut memisahkan mereka. Dalam pernikahan Allah menunjukkan sebuah mujizat saat dua individu menjadi satu. Hanya Allah yang dapat memisahkan mereka dengan mengambil salah satu dari pasangan itu dalam kematian.
Sekarang, apakah pernikahan itu ? Jika sebuah pasangan dalam keadaan mabuk atau bahkan dalam pengaruh obat bius, atau sebuah senjata, apakah upacara tersebut merupakan upacara yang resmi ? Apakah pernikahan semacam ini batal atau tidak berlaku ?
Saudara-saudara, pernikahan ini dianggap resmi karena hukum mengatakan bahwa  pernikahan adalah upacara resmi. Jika surat-surat yang sesuai ditandatangani maka mereka secara resmi menjadi suami-istri, menjadi sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di mata Allah.
Menurut 1  Korintus  6:16, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikat dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia ? Sebab, demikian kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’ Hubungan sex merupakan pernikahan. Pernikahan adalah keduanya baik secara resmi maupun secara rohani, disahkan oleh Allah sendiri.
Sekarang kita tahu apakah pernikahan itu, marilah kita melihat apakah ada dasar perceraian menurut Alkitab. Ya, ada satu dan hanya satu alasan  dan itu adalah perzinahan, atau ketidaksetiaan.  Matius 19:9, mengatakan, ‘Tetapi Aku berkata kepadamu : “Barang siapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Apakah arti kata perzinahan dalam bagian ini ? Arti sebenarnya adalah hubungan sezual yang gelap dengan orang yang ketiga. Yesus juga membuat hubungan berikut antara perzinahan dan perceraian: 1. Seorang laki-lakin yang menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, menjadikan dia seorang perempuan yang berzinah dan dirinyapun melakukan perzinahan jika dia menikah dengan perempuan lain. 2. Seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang diceraikan sama dengan melakukan perzinahan; dan 3. seorang wanita yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain juga dikatakan melakukan perzinahan.
Sekarang kita tahu bahwa perceraian karena perzinahan adalah sah menurut Alkitab. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak bersalah, haruskah mereka meminta bercerai berdasarkan Matius 19:9. Perceraian tidak pernah diperintahkan, hal ini diizinkan dalam beberapa hal. Perceraian bukanlah rencana Allah bagi manusia. Matius 19:4-5, mereka diizinkan bercerai menurut Yesus dalam Matius 19:8, “Karena ketegaran hatimu, Musa menizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Dengan kata lain, perceraian tidak pernah menjadi kehendak Allah. Dia mengizinkan perceraian karena ketegaran hati (hard heartedness) kita.

Setelah seseorang telah diceraikan, dapatkah mereka menikah kembali menurutAlkitab ? Kita harus ingat bahwa perceraian bukan kehendak Allah bagu manusia, Dia hanya memperbolehkan, tetapi tidak memberkatinya. Mungkin anda mengatakan, ‘Saya mengenal orang yang bercerai dan hidupnya jauh lebih baik. Saya juga mengenal orang seperti itu, tetapi itu hanya secara jasmani saja. Kita sebagai orang Kristen akan diadili menurut apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita di bumi ini dan dalam Alkitab jelas bahwa menurut orang Kristen yang mau menderita akhirnya masuk sorga.

Saudara-saudara, jika seorang diceraikan berdasarkan alkitab, dia akan bebas untuk menikah lagi (Ulangan 24:2). Jika mereka diceraikan tidak berdasarkan Alkitab, dan mereka menikah lagi, maka pernikahan yang kedua akan  menjadi “hidup dalam perzinahan”. saudara-saudara, ada sebuah noda (stigma) terhadap perceraian sebab ini menggambarkan peristiwa yang menyedihkan yang telah meruntuhkan (undermine) rumah tangga, dasar kemasyarakatan dan karena kesengsaraan (misery) yang mengikutinya, rumah-tangga yang hancur, sakit hati dan patah hati, anak-anak tunawisma (homeless), para pemuda yang jahat, kesepian, samudra air mata dan bahkan bunuh diri dan gila. Percerasian adalah suatu tragedi, sesuatu yang menyedihkan.
 
 
Mengapa kita harus menghindari perceraian ?
            Pertanyaan ini nampaknya banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Orang yang merasa tidak bahagia dalam pernikahannya nampaknya tidak dapat mengerti bahwa mereka harus tetap hidup bersama, khususnya jika mereka adalah orang Kristen. Alasan yang paling utama yang ada dalam pikiran saya adalah Firman Allah. Perceraian bertentangan dengan Kehendak Allah. Kita telah belajar bahwa perceraian bukan kehendak Allah untuk manusia.
            Selain karena alasan Alkitab, juga karena masalah-masalah social dan alasan moral; 1. orang tua perlu menyadari kesejahteraan anak-anak yang akan paling menderita  karena perceraian. Allah memberikan anak-anak itu untuk mengajar orang tua membesarkan mereka. Mereka mempunyai hak untuk memiliki keduanya baik ayah maupun ibu. 2. Pasangan harus menyadari bahwa perceraian menimbulkan skandal.         3. Beberapa gereja menolak hak gereja untuk menceraikan orang. Saya tidak mengatakan bahwa mereka benar, akan tetapi ada. 4. Banyak orang Kristen melihat bahwa perceraian adalah dosa, tanpa memperhatikan lingkungan atau situasi. 5. Kesulitan ekonomi sering menyebabkan perceraian. Kami mempunyai kata-kata orang tua di Amerika yang kadang-kadang membuat kami berpikir tentang perkawinan, “Dua orang dapat hidup sama murahnya dengan satu orang”. Saudara-saudara, hal itu tidak semuanya benar untuk semua pola hidup, tetapi benar untuk banyak hal. 6. Perceraian adalah sebuah hak umum yang sama sekali gagal. Dan 7. Perceraian adalah kehancuran dari kasih dan kebahagiaan dalam pernikahan. Saudara-saudara, Perceraian atau perpisahkan yang sah disebabkan oleh beberapa kepentingan diri sendiri dari seseorang.
Dapatkah orang yang bercerai masuk sorga ?
            Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus menjernihkannya (clarify) terlebih dahulu. Ya, Jika orangtersebut mempunyai dasar Alkitab dalam perceraian, kita sudah mengetahui sebelumnya bahwa Allah mengizinkan perceraian itu atas dasar perzinahan, yang diterjemahkan dalam beberapa penerjemahan sebagai “ketidaksetiaan”. Yang arti dasarnya adalah hubungan sex gelap dengan orang yang  ketiga.
            Dr. Rice dan Dr. Oir ? menasehatkan (suggest) bahwa hubungan ini artinya hanya jika orang  yang lain telah menjadi seorang yang sudah biasa berhubungan sex di luar nikah, biasanya, orang yang tidak bersalah akan memaafkan orang yag bersalah, terhadap pengakuan dan bersatu kembali. Tetapi, untuk masalah yang terus menerus, Tuhan mengizinkan sebuah perceraian. Bagaimanapun juga anak Allah tetap berada dalam kehendak-Nya.
            Persoalannya untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak sungguh-sungguh mengenal orang tersebut. Perceraian tidak dapat membuat seseorang ke luar dari sorga, tetapi hak tersebut berhubungan dengan kehendak Allah. Kita sebagai manusia sering menggunakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang lain untuk memutuskan apakah mereka selamat. Kita sebagai manusia tidak seharusnya melakukan hal itu, kita hanya dapat melihat bagian luar seseorang. Allah adalah satu-satunya yang dapat melihat hati manusia. Dia satu-satunya yang dapat membuat keputusan siapa yang akan masuk sorga.
            Perceraian tidak berbeda dari dosa-dosa yang lainnya, dan kita sebagai manusia perlu untuk dibersihkan dari dosa-dosa kita, dan dengan perceraian bukan merupakan jalan agar hidup kita dibersihkan. Jika sebuah pasangan benar-benar diselamatkan dan berusaha menyenangkan Allah, mereka tidak akan pernah memikirkan perceraian.
 
 
Apa yang harus dilakukan orang yang sudah menikah ? /Siapa yang bermaksud bercerai ?
Walaupun kita tidak mempunyai masalah tersebut di sini, kita mempunyai sesuatu yang menyebabkan perpisahan. Dalam surat mereka masih hidup dalam pernikahan, tetapi kenyataanya mereka bercerai, tidak pernah hidup dalam rumah tangga yang membawa kehormatan dan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus.
Keduanya sumi dan istri yang ingin bercerai atai berpisah secara sah seharusnya memperbarui janji mereka untuk lebih baik atau lebih buruk, sampai mati memisahkan kita. Langkah selanjutnya seharusnya untuk masing-masing orang memperoleh hak bersama dengan Tuhan dan kemudian yang lainnya; pengakuan dan pertobatan dengan saling kebersamaan akan membuat beberapa pernikahan berhasil. Lebih banyak berdoa bersama tentu akan sangat membantu untuk mendapatkan kembali perkawinan itu seperti semula. Juga harus meluangkan waktu untuk berdoa sendiri, melalui doa pribadi, Allah dapat bekerja dalam hati kita untuk membuat kita menjadi seperti Yesus.
Pencegahan yang paling penting terhadap perceraian, pastikan bahwa keduanya adalah orang Kristen, dengan iman yang sama akan mendapatkan beberapa kepentingan bersama.
Kadang-kadang anak-anak kecil sering menjadi cara pemecahan masalah material, mencegah anak-anak menuju ketidak-puasan, frustasi dan pertengakaran. Istri membiarkan suami menjadi suami yang sebebarnya, kepala rumah-tangga (bukan hanya sebagai figure kepala rumah-tangga saja). Istri menjadi subyektif kepada suaminya,  untuk memperbaiki sebuah rumah-tangga yang hancur memerlukan waktu yang lama.
Suami dan istri terus saling merayu (woo), masing-masing memerlukan banyak kasih sayang. Dan yang terakhir jika saudara ingin memperbaiki perkawinan teruslah meminta kepada Allah untuk memberi cinta yang suci kepada saudara berdua.

Perceraian menurut UU perkawinan
Perceraian terjadi apabila kedua belah pihak baik suami maupun istri sudah sama-sama merasakan ketidakcocokan dalam menjalani rumah tangga. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus. Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan serta penjelasannya secara kelas menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan. Definisi perceraian di Pengadilan Agama itu, dilihat dari putusnya perkawinan. Putusnya perkawinan di UUP dijelaskan, yaitu:
1. karena kematian
2. karena perceraian
3. karena putusnya pengadilan

Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat  perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa dirundingkan dan disepakati bersama.

Kondisi Menjelang Perceraian

Situasi dan kondisi menjelang perceraian yang diawali dengan proses negosiasi antara pasangan suami istri yang berakibat pasangan tersebut sudah tidak bisa lagi menghasilkan kesepakatan yang dapat memuaskan masing-masing pihak. Mereka seolah-olah tidak dapat lagi mencari jalan keluar yang baik bagi mereka berdua. Perasaan tersebut kemudian menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kedua belah pihak yang membuat hubungan antara suami istri menjadi semakin jauh.
Kondisi ini semakin menghilangkan pujian serta penghargaan yang diberikan kepada suami ataupun istri padahal pujian dan penghargaan tersebut merupakan dukungan emosional yang sangat diperlukan dalam suatu perkawinan. Hal ini mengakibatkan hubungan suami istri semakin jauh dan memburuk. Mereka semakin sulit untuk berbicara dan berdiskusi bersama serta merundingkan segala masalah-masalah yang perlu dicari jalan keluarnya. Masing-masing pihak kemudian merasa bahwa pasangannya sebagai orang lain. Akibatnya akan terjadilah perceraian (Scanzoni dan Scanzoni, 1981)


                         FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN  PERCERAIAN

Di dalam sebuah perceraian sering kita jumpai banyak faktor – faktor atau penyebab terjadinya perceraian itu sendiri. Dalam makalah ini kami menemukan beberapa faktor atau peneyebab terjadinya perceraian, diantaranya :
  1. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga : Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian yang lebih mendetail.
  2. Gagal komunikasi : Komunikasi merupakan hal terpenting dalam menjalin hubungan. Jika Anda dan pasangan kurang berkomunikasi atau tidak cocok dalam masalah ini, maka dapat menyebabkan kurangnya rasa pengertian dan memicu pertengkaran. Jika komunikasi Anda dan pasangan tidak diperbaiki, bukan tidak mungkin akan berujung pada perceraian.
  3. Perselingkuhan : Selingkuh merupakan penyebab lainnya perceraian. Sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, ada baiknya Anda dan pasangan memegang kuat komitmen dan menjaga keharmonisan hubungan.
  4. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) : KDRT tidak hanya meninggalkan luka di fisik tetapi juga psikis. Oleh karena itu kenalilah pasangan Anda sebaik mungkin sebelum memutuskan menikah dengannya. Jangan malu untuk melaporkan KDRT yang Anda alami pada orang terdekat atau lembaga perlindungan.
  5. Krisis moral dan akhlak : Selain hal diatas, perceraian juga sering dilandasi krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri, misal mabuk, terlibat tindak kriminal.
  6. Perzinahan : Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan baik oleh suami maupun istri.
  7. Pernikahan tanpa cinta: Untuk kasus yang satu ini biasanya terjadi karna faktor tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang sudah ditentukan, sehingga setelah menjalani bahtera rumah tangga sering kali pasangan tersebut tidak mengalami kecocokan. Selain itu, alasan inilah yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah perkawinan yakni bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.
  8. Pernikahan dini : Menikah di usia muda lebih rentan dalam hal perceraian. Hal ini karena pasangan muda belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan pernikahan dan ego masing-masing yang masih tinggi.
  9. Masalah ekonomi : Tingkat kebutuhan ekonomi di jaman sekarang ini memaksa kedua pasangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga seringkali perbedaan dalam pendapatan atau gaji membuat tiap pasangan berselisih, terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan yang menyebabkan pasangan dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga memutuskan untuk meninggalkannya.
  10. Perubahan budaya Zaman semakin modern, jika dahulu perceraian dianggap hal yang tabu sekarang ini telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.
  11. Adanya masalah-masalah dalam perkawinan: Dalam sebuah perkawinan pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah dalam perkawinan itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang berlarut-larut dan tidak dapat didamaikan lagi secara otomatis akan disusul dengan pisah ranjang.
  12. Keturunan : Anak memang menjadi impian bagi tiap pasangan, tetapi tidak semua pasangan mampu memberikan keturunan, salah satu penyebabnya mungkin kemandulan pada salah satu pasangan tersebut, sehingga menjadikan sebuah rumah tangga menjadi tidak harmonis.
                                                             DAMPAK PERCERAIAN

Perceraian tidak selalu negatif namun juga bukan suatu hal yang positif. Perceraian dapat menimbulkan dampak – dampak yang ditimbulkannya, di antaranya :
    1. Anak menjadi korban
Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi lebih sering untuk menyendiri.
Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.

Selain itu menurut Leslie (1967), reaksi anak terhadap perceraian orang tua sangat tergantung pada penilaian mereka sebelumnya terhadap perkawinan orangtua mereka serta rasa aman di dalam keluarga.

Diketahui bahwa lebih dari separuh anak yang berasal dari keluarga tidak bahagia menunjukkan reaksi bahwa perceraian adalah yang terbaik untuk keluarganya. Sedangkan anak-anak yang berasal dari keluarga bahagia lebih dari separuhnya menyatakan kesedihan dan bingung menghadapi perceraian orang tua mereka. Leslie (1967) mengemukakan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai sering hidup menderita, khususnya dalam hal keuangan serta secara emosional kehilangan rasa aman di dalam keluarga.
Dampak perceraian lain yang terlihat adalah meningkatnya “perasaan dekat” anak dengan ibu serta menurunnya jarak emosional terhadap ayah. Ini terjadi bila anak berada dalam asuhan dan perawatan ibu. Selain itu anak-anak dengan orang tua yang bercerai merasa malu dengan perceraian tersebut. Mereka menjadi inferior dengan anak-anak lain. Oleh karena itu tidak jarang mereka berbohong dengan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak bercerai atau bahkan menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang perceraian orang tua mereka.

Dampak perceraian yang di rasakan oleh anak

Anak memiliki berbagai perasaan yang ia alami mengenai perceraian kedua orang tuanya, antara  lain :
  1. Tidak aman (insecurity)
  2. Tidak diingikan atau ditolak oleh orang tuanya yang pergi (tergantung ia ikut dengan siapa)
  3. Sedih
  4. Kesepian
  5. Marah
  6. Kehilangan
  7. Merasa bersalah dan menyalahkan diri

Dampak perceraian tersebut dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku :

a.      Suka mengamuk, menjadi kasar dan tindakan agresif.
b.      Menjadi pendiam, tidak lagi ceria dan tidak suka bergaul.
c.       Sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi disekolah cenderung menurun.
d.      Suka melamun terutama mengkhayalkan orang tuanya akan bersatu lagi.

    1. Dampak untuk orang tua
Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.
Beberapa orang tua dari pasangan yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
    1. Bencana keuangan
Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.
    1. Masalah pengasuhan anak
Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.
Masalah lain dalam hal pengasuhan anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat hal ini semakin buruk.
    1. Gangguan emosi
Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian hari.
Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa disebabkan akibat depresi karena bercerai.
    1. Bahaya masa remaja kedua
Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.

                                                     MENCEGAH PERCERAIAN
Ada beberapa tips yang dapat kita pertimbangkan, saat rumah tangga kita berada diambang perceraian. Berikut adalah beberapa diantaranya:
1.    Cari Sumbernya
Ada asap pasti ada api. Demikian juga halnya dengan kehidupan rumah tangga. Keputusan untuk bercerai tentunya bukan tanpa sebab. Karena itu, carilah sumber dari hal ini. Jika sumber permasalahannya sudah dapat ditemukan, cobalah untuk menyelesaikan dengan baik-baik. Sebab setiap masalah tentu mempunyai jalan keluar.
Apapun masalah yang menjadi sumber dari keputusan cerai yang akan diambil, sebaiknya pertimbangkan dengan matang. Sebab, jika kita sudah menemukan sumber permasalahannya, maka keputusan yang tepat akan dapat diambil, apakah akan meneruskan keputusan untuk bercerai, atau tidak.
2.    Introspeksi
Bila Anda sudah mengetahui penyebab kenapa Anda atau suami ingin bercerai, cobalah untuk berintropeksi. Ini yang seringkali sulit dilakukan. Pasalnya, masing-masing pasangan pasti merasa dirinyalah yang benar. Mereka tak bakal bisa menerima kenyataan bahwa merekalah pangkal sebab munculnya niat cerai. Mungkin, Anda malu mengakui secara jujur kekurangan Anda, tapi cobalah menjawab dengan jujur pada diri sendiri bahwa yang dikatakan pasangan Anda ada benarnya. Mumpung masih ada waktu, kenapa tak Anda coba perbaiki dari sekarang? Tentu, suami pun harus melakukan hal serupa. Bisa jadi, ialah yang membuat perkawinan menjadi goyah dan tak harmonis lagi.
3.    Jangan membesarkan masalah
Jika Anda dan suami sudah tahu sumber keributan dan konflik dalam rumahtangga, sebaiknya jangan memperbesar masalah. Juga, jangan mencari masalah baru. Pasalnya, ini justru akan memperkeruh suasana. Bila Anda menyadari kekurangan yang ada, tak ada salahnya meminta maaf. Tidak perlu malu dan berusaha menjadi istri yang baik seperti yang diharapkan suami. Cobalah untuk mencari solusi sebaik-baiknya.
4.    Pisah sementara
Meski sepertinya sangat tak enak, cara ini bisa menjadi jalan terbaik untuk menghindari perceraian. Pisah untuk sementara waktu akan membantu suami-istri untuk menenteramkan diri sekaligus menilai, keputusan apa yang sebaiknya ditempuh. Kenapa harus pisah rumah? Pasalnya, dua hati yang sama-sama sedang panas, sebaiknya tak bertemu setiap hari. Jika setiap hari bertemu, yang terjadi bukan membaik, malah justru bakal semakin panas. Bisa-bisa ribut terus dan tidak ada titik temu. Yang dibahas setiap hari pasti akan balik ke masalah yang itu-itu saja. Anda bisa misalnya “mengungsi” dulu ke rumah orang tua, sementara suami pindah dulu sementara ke rumah orang tuanya. Pisah rumah akan membantu mendinginkan hati yang sedang memanas, sehingga Anda dan suami dapat berpikir jernih.
5.    Komunikasi
Apapun, komunikasi merupakan fondasi sebuah hubungan, termasuk hubungan dalam perkawinan. Tanpa komunikasi, hubungan tak bakal bisa bertahan. Jadi, seberat apapun situasi yang tengah Anda hadapi, sebaiknya tetap lakukan komunikasi dengan pasangan. Bahkan setelah Anda dan suami sama-sama hidup terpisah, cobalah untuk tetap berkomunikasi. Coba diskusikan bersama, langkah terbaik apa yang bisa Anda berdua lakukan untuk menghindari perceraian, untuk mempertahankan mahligai rumahtangga. Tak mudah memang, tapi jika Anda berdua sudah berpisah untuk sementara waktu, situasi panas barangkali sudah lewat, sehingga Anda berdua sudah siap untuk berkomunikasi. Jangan merasa malu atau gengsi untuk saling menghubungi.
6.    Libatkan keluarga
Jika kenyataannya, pasangan sudah tidak dapat diajak berkomunikasi atau selalu berusaha menghindar, cobalah libatkan anggota keluarga yang memang dekat dengannya. Orang tua, kakak atau pamannya misalnya. Pokoknya, siapa saja yang Anda rasa bisa Anda ajak berbicara. Tentu, Anda jangan pernah menutupi akar permasalahan yang ada kepada mereka, tetapi berterus teranglah. Katakan juga, apa sebetulnya kekurangan Anda maupun kekurangan suami. Siapa tahu, mediator ini dapat melunakkan hati Anda dan pasangan, sekaligus mencarikan solusi untuk kembali bersatu.
7.    Cari teman curhat
Menghadapi perceraian tentu akan membuat pikiran runyam, pekerjaan terbengkalai dan bingung harus berbuat apa. Nah, kondisi tidak nyaman ini bisa Anda atasi bila Anda bisa berbagi dengan orang terdekat, sahabat misalnya. Dengan berbagi, beban pikiran Anda akan terasa lebih ringan. Yang harus dicermati, jangan mencari teman curhat yang lawan jenis. Carilah teman curhat sesama jenis. Pasalnya, bila Anda bercerita, mengungkapkan uneg-uneg Anda pada teman pria, belum tentu sepenuhnya ia akan mendukung Anda untuk kembali bersatu dengan suami. Bisa jadi ia malah menggoda Anda, dan jika Anda akhirnya benar-benar tergoda, yang muncul akhirnya malah masalah baru.
8.    Ingat anak
Anak biasanya menjadi senjata terampuh untuk meredam konflik antara suami-istri. Jadi, bila ternyata antara Anda dan suami sama¬sama menginginkan perceraian, cobalah ingat anak-anak Anda, buah cinta kasih Anda dan suami. Ingatlah bahwa mereka masih sangat membutuhkan Anda dan suami. Apakah mereka harus menjadi korban perceraian karena keegoisan orang tuanya? Lantas, setelah Anda bercerai, kemana dan kepada siapa mereka harus ikut, Anda atau suami? Jika Anda menyayangi mereka, pikirkan kembali keputusan tersebut.
9.    Kesampingkan ego pribadi
Jika Anda memang masih menginginkan keutuhan rumahtangga, segera buang jauh-jauh ego yang ada dalam diri Anda. Jangan merasa diri selalu benar dan sealu menyudutkan pasangan, begitu pula sebaiknya. Sadarilah bahwa apa yang terajadi sekarang adalah kesalahan Anda dan suami. Kalaupun selama ini ada sakit hati yang terselip, cobalah untuk saling memberi maaf.
10.    Jujur pada diri sendiri
Jujurlah pada diri sendiri, apakah Anda sudah siap mental untuk berpisah selamanya dengan suami? Perceraian tidaklah semudah yang dibayangkan. Berpisah lalu hidup tenang. Tidak selamanya perceraian membuat kehidupan menjadi bahagia. Bisa jadi justru sebaliknya, lebih hancur. Banyak masalah-masalah di kemudian hari yang berbuntut panjang. Mulai anak, harta gono-gini sampai hubungan antar-keluarga yang ikut tidak harmonis. Jadi, pikirkan kembali jika ingin mengambil keputusan ini. Selain jujur, Anda juga harus mengedepankan rasio. Perempuan biasanya memang lebih banyak menggunakan perasaan, namun untuk soal seberat ini jangan hanya perasaan. Pertimbangkan benar, apa dampaknya bagi Anda dan keluarga jika perceraian itu benar-benar terjadi.
11.    Banyak berdoa
Banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dapat membantu permasalahan Anda. Mintalah petunjuk dari-Nya. Dengan semakin bertekun dan mendekat kan diri, insya Allah doa Anda akan terjawab
12.    Buka lembaran baru
Jika Anda dan suami akhirnya bisa kembali rukun, maka Anda harus siap membuka lembaran baru bersama suami. Jangan pernah mengungkit-ungkit persoalan dan penyebab Anda berdua pernah berniat untuk bercerai. Sekali Anda mengungkit-ungkit, bisa jadi Anda akhirnya akan benar-benar bercerai. Yang paling penting adalah saling mengingatkan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Jika memang keputusan cerai yang diambil, sebaiknya pertimbangkan masa depan anak-anak. Jangan sampai perceraian yang terjadi menjadi neraka bagi anak-anak.