PERCERAIAN
Hari ini kita akan melihat tentang
pokok perceraian ini dari Alkitab untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang ada
dalam pikiran kita. Pertama kita harus melihat sejenak dari awal untuk dapat
mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Ini harus dicatat, bahwa saudara tidak
dapat bercerai kalau belum menikah. Dalam pernikahan ini sebuah kontrak
ditanda-tangani dengan pernyataan bahwa mereka akan tetap mempertahankan
pernikahan mereka sampai maut memisahkan mereka. Dalam pernikahan Allah
menunjukkan sebuah mujizat saat dua individu menjadi satu. Hanya Allah yang
dapat memisahkan mereka dengan mengambil salah satu dari pasangan itu dalam
kematian.
Sekarang, apakah pernikahan itu ?
Jika sebuah pasangan dalam keadaan mabuk atau bahkan dalam pengaruh obat bius,
atau sebuah senjata, apakah upacara tersebut merupakan upacara yang resmi ?
Apakah pernikahan semacam ini batal atau tidak berlaku ?
Saudara-saudara, pernikahan ini
dianggap resmi karena hukum mengatakan bahwa
pernikahan adalah upacara resmi. Jika surat-surat yang sesuai
ditandatangani maka mereka secara resmi menjadi suami-istri, menjadi sebuah
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di mata Allah.
Menurut 1 Korintus 6:16, “Atau
tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikat dirinya pada perempuan cabul,
menjadi satu tubuh dengan dia ? Sebab, demikian kata nas: ‘Keduanya akan
menjadi satu daging.’ Hubungan sex merupakan pernikahan. Pernikahan adalah
keduanya baik secara resmi maupun secara rohani, disahkan oleh Allah sendiri.
Sekarang kita tahu apakah pernikahan
itu, marilah kita melihat apakah ada dasar perceraian menurut Alkitab. Ya, ada
satu dan hanya satu alasan dan itu
adalah perzinahan, atau ketidaksetiaan. Matius
19:9, mengatakan, ‘Tetapi Aku berkata
kepadamu : “Barang siapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin
dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Apakah arti kata perzinahan dalam bagian ini ? Arti
sebenarnya adalah hubungan sezual yang gelap dengan orang yang ketiga. Yesus
juga membuat hubungan berikut antara perzinahan dan perceraian: 1. Seorang laki-lakin yang menceraikan
istrinya, kecuali karena zinah, menjadikan dia seorang perempuan yang berzinah
dan dirinyapun melakukan perzinahan jika dia menikah dengan perempuan lain. 2. Seorang laki-laki yang menikahi
seorang perempuan yang diceraikan sama dengan melakukan perzinahan; dan 3. seorang wanita yang menceraikan
suaminya dan menikah dengan laki-laki lain juga dikatakan melakukan perzinahan.
Sekarang kita tahu bahwa perceraian
karena perzinahan adalah sah menurut Alkitab. Bagaimana dengan orang-orang yang
tidak bersalah, haruskah mereka meminta bercerai berdasarkan Matius 19:9. Perceraian tidak pernah
diperintahkan, hal ini diizinkan dalam beberapa hal. Perceraian bukanlah
rencana Allah bagi manusia. Matius 19:4-5, mereka diizinkan bercerai menurut
Yesus dalam Matius 19:8, “Karena
ketegaran hatimu, Musa menizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula
tidaklah demikian.” Dengan kata lain, perceraian tidak pernah menjadi
kehendak Allah. Dia mengizinkan perceraian karena ketegaran hati (hard
heartedness) kita.
Setelah
seseorang telah diceraikan, dapatkah mereka menikah kembali menurutAlkitab ?
Kita harus ingat bahwa perceraian bukan kehendak Allah bagu manusia, Dia hanya
memperbolehkan, tetapi tidak memberkatinya. Mungkin anda mengatakan, ‘Saya mengenal orang yang bercerai dan hidupnya jauh lebih baik. Saya juga
mengenal orang seperti itu, tetapi itu hanya secara jasmani saja. Kita sebagai
orang Kristen akan diadili menurut apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita
di bumi ini dan dalam Alkitab jelas bahwa menurut orang Kristen yang mau
menderita akhirnya masuk sorga.
Saudara-saudara, jika seorang
diceraikan berdasarkan alkitab, dia akan bebas untuk menikah lagi (Ulangan 24:2). Jika mereka diceraikan
tidak berdasarkan Alkitab, dan mereka menikah lagi, maka pernikahan yang kedua
akan menjadi “hidup dalam perzinahan”. saudara-saudara, ada sebuah noda (stigma) terhadap perceraian sebab ini
menggambarkan peristiwa yang menyedihkan yang telah meruntuhkan (undermine) rumah tangga, dasar
kemasyarakatan dan karena kesengsaraan (misery)
yang mengikutinya, rumah-tangga yang hancur, sakit hati dan patah hati,
anak-anak tunawisma (homeless), para
pemuda yang jahat, kesepian, samudra air mata dan bahkan bunuh diri dan gila.
Percerasian adalah suatu tragedi, sesuatu yang menyedihkan.
Mengapa kita
harus menghindari perceraian ?
Pertanyaan ini
nampaknya banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Orang yang merasa tidak bahagia
dalam pernikahannya nampaknya tidak dapat mengerti bahwa mereka harus tetap
hidup bersama, khususnya jika mereka adalah orang Kristen. Alasan yang paling
utama yang ada dalam pikiran saya adalah Firman Allah. Perceraian bertentangan
dengan Kehendak Allah. Kita telah belajar bahwa perceraian bukan kehendak Allah
untuk manusia.
Selain karena
alasan Alkitab, juga karena masalah-masalah social dan alasan moral; 1. orang tua perlu menyadari
kesejahteraan anak-anak yang akan paling menderita karena perceraian. Allah memberikan anak-anak
itu untuk mengajar orang tua membesarkan mereka. Mereka mempunyai hak untuk
memiliki keduanya baik ayah maupun ibu. 2.
Pasangan harus menyadari bahwa perceraian menimbulkan skandal. 3.
Beberapa gereja menolak hak gereja untuk menceraikan orang. Saya tidak
mengatakan bahwa mereka benar, akan tetapi ada. 4. Banyak orang Kristen melihat bahwa perceraian adalah dosa, tanpa
memperhatikan lingkungan atau situasi. 5.
Kesulitan ekonomi sering menyebabkan perceraian. Kami mempunyai kata-kata
orang tua di Amerika yang kadang-kadang membuat kami berpikir tentang
perkawinan, “Dua orang dapat hidup sama
murahnya dengan satu orang”. Saudara-saudara, hal itu tidak semuanya benar
untuk semua pola hidup, tetapi benar untuk banyak hal. 6. Perceraian adalah sebuah hak umum yang sama sekali gagal. Dan 7. Perceraian adalah kehancuran dari
kasih dan kebahagiaan dalam pernikahan. Saudara-saudara, Perceraian atau
perpisahkan yang sah disebabkan oleh beberapa kepentingan diri sendiri dari
seseorang.
Dapatkah orang
yang bercerai masuk sorga ?
Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus menjernihkannya (clarify) terlebih
dahulu. Ya, Jika orangtersebut mempunyai dasar Alkitab dalam perceraian, kita sudah
mengetahui sebelumnya bahwa Allah mengizinkan perceraian itu atas dasar
perzinahan, yang diterjemahkan dalam beberapa penerjemahan sebagai “ketidaksetiaan”. Yang arti dasarnya
adalah hubungan sex gelap dengan orang yang
ketiga.
Dr. Rice dan Dr.
Oir ? menasehatkan (suggest)
bahwa hubungan ini artinya hanya jika orang
yang lain telah menjadi seorang yang sudah biasa berhubungan sex di luar
nikah, biasanya, orang yang tidak bersalah akan memaafkan orang yag bersalah,
terhadap pengakuan dan bersatu kembali. Tetapi, untuk masalah yang terus
menerus, Tuhan mengizinkan sebuah perceraian. Bagaimanapun juga anak Allah
tetap berada dalam kehendak-Nya.
Persoalannya untuk
menjawab pertanyaan ini kita tidak sungguh-sungguh mengenal orang tersebut.
Perceraian tidak dapat membuat seseorang ke luar dari sorga, tetapi hak
tersebut berhubungan dengan kehendak Allah. Kita sebagai manusia sering
menggunakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang lain untuk memutuskan
apakah mereka selamat. Kita sebagai manusia tidak seharusnya melakukan hal itu,
kita hanya dapat melihat bagian luar seseorang. Allah adalah satu-satunya yang
dapat melihat hati manusia. Dia satu-satunya yang dapat membuat keputusan siapa
yang akan masuk sorga.
Perceraian
tidak berbeda dari dosa-dosa yang lainnya, dan kita sebagai manusia perlu untuk
dibersihkan dari dosa-dosa kita, dan dengan perceraian bukan merupakan jalan
agar hidup kita dibersihkan. Jika sebuah pasangan benar-benar diselamatkan dan
berusaha menyenangkan Allah, mereka tidak akan pernah memikirkan perceraian.
Apa yang harus
dilakukan orang yang sudah menikah ? /Siapa yang bermaksud bercerai ?
Walaupun kita tidak mempunyai
masalah tersebut di sini, kita mempunyai sesuatu yang menyebabkan perpisahan.
Dalam surat mereka masih hidup dalam pernikahan, tetapi kenyataanya mereka
bercerai, tidak pernah hidup dalam rumah tangga yang membawa kehormatan dan
kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus.
Keduanya sumi dan istri yang ingin
bercerai atai berpisah secara sah seharusnya memperbarui janji mereka untuk
lebih baik atau lebih buruk, sampai mati memisahkan kita. Langkah selanjutnya
seharusnya untuk masing-masing orang memperoleh hak bersama dengan Tuhan dan
kemudian yang lainnya; pengakuan dan pertobatan dengan saling kebersamaan akan
membuat beberapa pernikahan berhasil. Lebih banyak berdoa bersama tentu akan
sangat membantu untuk mendapatkan kembali perkawinan itu seperti semula. Juga
harus meluangkan waktu untuk berdoa sendiri, melalui doa pribadi, Allah dapat
bekerja dalam hati kita untuk membuat kita menjadi seperti Yesus.
Pencegahan yang paling penting
terhadap perceraian, pastikan bahwa keduanya adalah orang Kristen, dengan iman
yang sama akan mendapatkan beberapa kepentingan bersama.
Kadang-kadang anak-anak kecil sering
menjadi cara pemecahan masalah material, mencegah anak-anak menuju
ketidak-puasan, frustasi dan pertengakaran. Istri membiarkan suami menjadi
suami yang sebebarnya, kepala rumah-tangga (bukan
hanya sebagai figure kepala rumah-tangga saja). Istri menjadi subyektif
kepada suaminya, untuk memperbaiki
sebuah rumah-tangga yang hancur memerlukan waktu yang lama.
Suami dan istri terus saling merayu (woo), masing-masing memerlukan banyak kasih sayang. Dan yang
terakhir jika saudara ingin memperbaiki perkawinan teruslah meminta kepada
Allah untuk memberi cinta yang suci kepada saudara berdua.
Perceraian
menurut UU perkawinan
Perceraian
terjadi apabila kedua belah pihak baik suami maupun istri sudah sama-sama
merasakan ketidakcocokan dalam menjalani rumah tangga. Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan definisi mengenai perceraian
secara khusus. Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan serta penjelasannya secara kelas
menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila sesuai dengan alasan-alasan
yang telah ditentukan. Definisi perceraian di Pengadilan Agama itu, dilihat
dari putusnya perkawinan. Putusnya perkawinan di UUP dijelaskan, yaitu:
1. karena kematian
2. karena perceraian
3. karena putusnya pengadilan
Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat
perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta
penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena
perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama,
sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan mereka
berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa
dirundingkan dan disepakati bersama.
Situasi
dan kondisi menjelang perceraian yang diawali dengan proses negosiasi antara
pasangan suami istri yang berakibat pasangan tersebut sudah tidak bisa lagi
menghasilkan kesepakatan yang dapat memuaskan masing-masing pihak. Mereka
seolah-olah tidak dapat lagi mencari jalan keluar yang baik bagi mereka berdua.
Perasaan tersebut kemudian menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kedua
belah pihak yang membuat hubungan antara suami istri menjadi semakin jauh.
Kondisi
ini semakin menghilangkan pujian serta penghargaan yang diberikan kepada suami
ataupun istri padahal pujian dan penghargaan tersebut merupakan dukungan
emosional yang sangat diperlukan dalam suatu perkawinan. Hal ini mengakibatkan
hubungan suami istri semakin jauh dan memburuk. Mereka semakin sulit untuk
berbicara dan berdiskusi bersama serta merundingkan segala masalah-masalah yang
perlu dicari jalan keluarnya. Masing-masing pihak kemudian merasa bahwa
pasangannya sebagai orang lain. Akibatnya akan terjadilah perceraian (Scanzoni
dan Scanzoni, 1981)
FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN
PERCERAIAN
Di
dalam sebuah perceraian sering kita jumpai banyak faktor – faktor atau penyebab
terjadinya perceraian itu sendiri. Dalam makalah ini kami menemukan beberapa
faktor atau peneyebab terjadinya perceraian, diantaranya :
- Ketidakharmonisan
dalam rumah tangga : Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling
kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai.
Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis
keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain,
istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian
yang lebih mendetail.
- Gagal
komunikasi : Komunikasi merupakan hal terpenting dalam menjalin hubungan.
Jika Anda dan pasangan kurang berkomunikasi atau tidak cocok dalam masalah
ini, maka dapat menyebabkan kurangnya rasa pengertian dan memicu
pertengkaran. Jika komunikasi Anda dan pasangan tidak diperbaiki, bukan
tidak mungkin akan berujung pada perceraian.
- Perselingkuhan
: Selingkuh merupakan penyebab lainnya perceraian. Sebelum melangkah ke
jenjang pernikahan, ada baiknya Anda dan pasangan memegang kuat komitmen
dan menjaga keharmonisan hubungan.
- Kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) : KDRT tidak hanya meninggalkan luka di fisik
tetapi juga psikis. Oleh karena itu kenalilah pasangan Anda sebaik mungkin
sebelum memutuskan menikah dengannya. Jangan malu untuk melaporkan KDRT
yang Anda alami pada orang terdekat atau lembaga perlindungan.
- Krisis
moral dan akhlak : Selain hal diatas, perceraian juga sering dilandasi
krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik oleh
suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, dan keburukan perilaku
lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri, misal mabuk,
terlibat tindak kriminal.
- Perzinahan
: Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya
perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang
dilakukan baik oleh suami maupun istri.
- Pernikahan
tanpa cinta: Untuk kasus yang satu ini biasanya terjadi karna faktor
tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang
sudah ditentukan, sehingga setelah menjalani bahtera rumah tangga sering
kali pasangan tersebut tidak mengalami kecocokan. Selain itu, alasan
inilah yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri
sebuah perkawinan yakni bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa
dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan
tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah
sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam
menghasilkan keputusan yang terbaik.
- Pernikahan dini : Menikah
di usia muda lebih rentan dalam hal perceraian. Hal ini karena pasangan
muda belum siap menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan pernikahan
dan ego masing-masing yang masih tinggi.
- Masalah ekonomi : Tingkat
kebutuhan ekonomi di jaman sekarang ini memaksa kedua pasangan harus
bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga seringkali
perbedaan dalam pendapatan atau gaji membuat tiap pasangan berselisih,
terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan yang menyebabkan
pasangan dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga, sehingga
memutuskan untuk meninggalkannya.
- Perubahan budaya Zaman
semakin modern, jika dahulu perceraian dianggap hal yang tabu sekarang ini
telah menjadi tren dan gaya hidup banyak pasangan.
- Adanya
masalah-masalah dalam perkawinan: Dalam sebuah perkawinan pasti tidak akan
lepas dari yang namanya masalah. Masalah dalam perkawinan itu merupakan
suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang berlarut-larut dan tidak dapat
didamaikan lagi secara otomatis akan disusul dengan pisah ranjang.
- Keturunan
: Anak
memang menjadi impian bagi tiap pasangan, tetapi tidak semua pasangan
mampu memberikan keturunan, salah satu penyebabnya mungkin kemandulan pada
salah satu pasangan tersebut, sehingga menjadikan sebuah rumah
tangga menjadi tidak harmonis.
DAMPAK PERCERAIAN
Perceraian tidak selalu negatif
namun juga bukan suatu hal yang positif. Perceraian dapat menimbulkan dampak –
dampak yang ditimbulkannya, di antaranya :
- Anak
menjadi korban
Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya
memutuskan untuk bercerai. Anak dapat merasa ketakutan karena kehilangan sosok
ayah atau ibu mereka, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak
tinggal serumah. Mungkin juga mereka merasa bersalah dan menganggap diri mereka
sebagai penyebabnya. Prestasi anak di sekolah akan menurun atau mereka jadi
lebih sering untuk menyendiri.
Anak-anak
yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara ayah dan ibu
mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin menaruh
curiga bahwa mantan pasangan hidupnya tersebut mempengaruhi sang anak agar
membencinya. Ini dapat mebuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak
terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka
remaja. Sebagai pelarian yang buruk, anak-anak bisa terlibat dalam pergaulan
yang buruk, narkoba, atau hal negatif lain yang bisa merugikan.
Selain itu menurut Leslie (1967), reaksi anak terhadap
perceraian orang tua sangat tergantung pada penilaian mereka sebelumnya
terhadap perkawinan orangtua mereka serta rasa aman di dalam keluarga.
Diketahui
bahwa lebih dari separuh anak yang berasal dari keluarga tidak bahagia
menunjukkan reaksi bahwa perceraian adalah yang terbaik untuk keluarganya.
Sedangkan anak-anak yang berasal dari keluarga bahagia lebih dari separuhnya
menyatakan kesedihan dan bingung menghadapi perceraian orang tua mereka. Leslie
(1967) mengemukakan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai sering hidup
menderita, khususnya dalam hal keuangan serta secara emosional kehilangan rasa
aman di dalam keluarga.
Dampak perceraian lain yang terlihat adalah meningkatnya “perasaan dekat” anak
dengan ibu serta menurunnya jarak emosional terhadap ayah. Ini terjadi bila
anak berada dalam asuhan dan perawatan ibu. Selain itu anak-anak dengan orang
tua yang bercerai merasa malu dengan perceraian tersebut. Mereka menjadi
inferior dengan anak-anak lain. Oleh karena itu tidak jarang mereka berbohong
dengan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak bercerai atau bahkan menghindari
pertanyaan-pertanyaan tentang perceraian orang tua mereka.
Anak memiliki berbagai perasaan yang
ia alami mengenai perceraian kedua orang tuanya, antara lain :
- Tidak
aman (insecurity)
- Tidak
diingikan atau ditolak oleh orang tuanya yang pergi (tergantung
ia ikut dengan siapa)
- Sedih
- Kesepian
- Marah
- Kehilangan
- Merasa
bersalah dan menyalahkan diri
Dampak perceraian tersebut dapat termanifestasi dalam
bentuk perilaku :
a.
Suka mengamuk, menjadi kasar dan tindakan agresif.
b.
Menjadi pendiam, tidak lagi ceria dan tidak suka bergaul.
c.
Sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi
disekolah cenderung menurun.
d.
Suka melamun terutama mengkhayalkan orang tuanya akan bersatu lagi.
- Dampak
untuk orang tua
Selain anak-anak, orang tua dari pasangan yang bercerai juga
mungkin terkena imbas dari keputusan untuk bercerai. Sebagai orang tua, mereka
dapat saja merasa takut anak mereka yang bercerai akan menderita karena
perceraian ini atau merasa risih dengan pergunjingan orang-orang.
Beberapa orang tua dari pasangan
yang bercerai akhirnya harus membantu membesarkan cucu mereka karena
ketidaksanggupan dari pasangan yang bercerai untuk memenuhi kebutuhan
anak-anaknya.
- Bencana
keuangan
Jika sebelum bercerai, suami sebagai pencari nafkah maka setelah
bercerai Anda tidak akan memiliki pendapatan sama sekali apalagi jika mantan
pasangan Anda tidak memberikan tunjangan. Atau jika pemasukan berasal dari Anda
dan pasangan, sekarang setelah bercerai, pemasukan uang Anda berkurang. Jika
Anda mendapat hak asuh atas anak, berarti Anda juga bertanggung jawab untuk
menanggung biaya hidup dari anak Anda. Yang perlu diingat, setelah bercerai,
umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari
50 persen.
- Masalah
pengasuhan anak
Setelah bercerai, berarti kini Anda harus menjalankan peranan ganda
sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada
banyak hal lain yang harus Anda pikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak
sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan, Anda harus dengan masuk akal
menjaga atau memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak
yang baik.
Masalah lain dalam hal pengasuhan
anak adalah ketika harus berbagi hak asuh anak dengan pasangan karena bisa jadi
Anda masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan Anda sehingga sulit untuk
bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin
anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit
hati dapat membuat hal ini semakin buruk.
- Gangguan
emosi
Adalah hal yang wajar jika setelah bercerai Anda masih menyimpan perasan
cinta terhadap mantan pasangan Anda. Harapan Anda untuk hidup sampai tua
bersama pasangan menjadi kandas, ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang
sangat besar yang menyakitkan. Mungkin juga Anda ketakutan jika tidak ada orang
yang akan mencintai Anda lagi atau perasaan takut ditinggalkan lagi di kemudian
hari.
Perasaan lain yang mungkin dialami
adalah perasaan terhina atau perasaan marah dan kesal akibat sikap buruk
pasangan. Anda juga mungkin merasa kesepian karena sudah tidak ada lagi tempat
Anda berbagi cerita, tempat Anda mencurahkan dan mendapatkan bentuk kasih
saying. Serangkaian problem kesehatan juga bisa
disebabkan akibat depresi karena bercerai.
- Bahaya
masa remaja kedua
Pasangan yang baru bercerai sering mengalami masa remaja kedua.
Mereka mencicipi kemerdekaan baru dengan memburu serangkaian hubungan asmara
dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir
kesepian. Hal ini bisa menimbulkan problem baru yang lebih buruk dan tragis
karena tidak mempertimbangkan baik-baik langkah yang dilakukan.
MENCEGAH PERCERAIAN
Ada beberapa tips yang dapat kita
pertimbangkan, saat rumah tangga kita berada diambang perceraian. Berikut
adalah beberapa diantaranya:
1.
Cari Sumbernya
Ada asap pasti ada api. Demikian
juga halnya dengan kehidupan rumah tangga. Keputusan untuk bercerai tentunya
bukan tanpa sebab. Karena itu, carilah sumber dari hal ini. Jika sumber
permasalahannya sudah dapat ditemukan, cobalah untuk menyelesaikan dengan
baik-baik. Sebab setiap masalah tentu mempunyai jalan keluar.
Apapun masalah yang menjadi sumber
dari keputusan cerai yang akan diambil, sebaiknya pertimbangkan dengan matang.
Sebab, jika kita sudah menemukan sumber permasalahannya, maka keputusan yang
tepat akan dapat diambil, apakah akan meneruskan keputusan untuk bercerai, atau
tidak.
2.
Introspeksi
Bila Anda sudah mengetahui penyebab
kenapa Anda atau suami ingin bercerai, cobalah untuk berintropeksi. Ini yang
seringkali sulit dilakukan. Pasalnya, masing-masing pasangan pasti merasa
dirinyalah yang benar. Mereka tak bakal bisa menerima kenyataan bahwa merekalah
pangkal sebab munculnya niat cerai. Mungkin, Anda malu mengakui secara jujur
kekurangan Anda, tapi cobalah menjawab dengan jujur pada diri sendiri bahwa
yang dikatakan pasangan Anda ada benarnya. Mumpung masih ada waktu, kenapa tak
Anda coba perbaiki dari sekarang? Tentu, suami pun harus melakukan hal serupa.
Bisa jadi, ialah yang membuat perkawinan menjadi goyah dan tak harmonis lagi.
3.
Jangan membesarkan masalah
Jika Anda dan suami sudah tahu
sumber keributan dan konflik dalam rumahtangga, sebaiknya jangan memperbesar
masalah. Juga, jangan mencari masalah baru. Pasalnya, ini justru akan
memperkeruh suasana. Bila Anda menyadari kekurangan yang ada, tak ada salahnya
meminta maaf. Tidak perlu malu dan berusaha menjadi istri yang baik seperti
yang diharapkan suami. Cobalah untuk mencari solusi sebaik-baiknya.
4.
Pisah sementara
Meski sepertinya sangat tak enak,
cara ini bisa menjadi jalan terbaik untuk menghindari perceraian. Pisah untuk
sementara waktu akan membantu suami-istri untuk menenteramkan diri sekaligus
menilai, keputusan apa yang sebaiknya ditempuh. Kenapa harus pisah rumah?
Pasalnya, dua hati yang sama-sama sedang panas, sebaiknya tak bertemu setiap
hari. Jika setiap hari bertemu, yang terjadi bukan membaik, malah justru bakal
semakin panas. Bisa-bisa ribut terus dan tidak ada titik temu. Yang dibahas
setiap hari pasti akan balik ke masalah yang itu-itu saja. Anda bisa misalnya
“mengungsi” dulu ke rumah orang tua, sementara suami pindah dulu sementara ke
rumah orang tuanya. Pisah rumah akan membantu mendinginkan hati yang sedang
memanas, sehingga Anda dan suami dapat berpikir jernih.
5.
Komunikasi
Apapun, komunikasi merupakan fondasi
sebuah hubungan, termasuk hubungan dalam perkawinan. Tanpa komunikasi, hubungan
tak bakal bisa bertahan. Jadi, seberat apapun situasi yang tengah Anda hadapi,
sebaiknya tetap lakukan komunikasi dengan pasangan. Bahkan setelah Anda dan
suami sama-sama hidup terpisah, cobalah untuk tetap berkomunikasi. Coba
diskusikan bersama, langkah terbaik apa yang bisa Anda berdua lakukan untuk
menghindari perceraian, untuk mempertahankan mahligai rumahtangga. Tak mudah
memang, tapi jika Anda berdua sudah berpisah untuk sementara waktu, situasi
panas barangkali sudah lewat, sehingga Anda berdua sudah siap untuk
berkomunikasi. Jangan merasa malu atau gengsi untuk saling menghubungi.
6.
Libatkan keluarga
Jika kenyataannya, pasangan sudah
tidak dapat diajak berkomunikasi atau selalu berusaha menghindar, cobalah
libatkan anggota keluarga yang memang dekat dengannya. Orang tua, kakak atau
pamannya misalnya. Pokoknya, siapa saja yang Anda rasa bisa Anda ajak
berbicara. Tentu, Anda jangan pernah menutupi akar permasalahan yang ada kepada
mereka, tetapi berterus teranglah. Katakan juga, apa sebetulnya kekurangan Anda
maupun kekurangan suami. Siapa tahu, mediator ini dapat melunakkan hati Anda
dan pasangan, sekaligus mencarikan solusi untuk kembali bersatu.
7.
Cari teman curhat
Menghadapi perceraian tentu akan
membuat pikiran runyam, pekerjaan terbengkalai dan bingung harus berbuat apa.
Nah, kondisi tidak nyaman ini bisa Anda atasi bila Anda bisa berbagi dengan
orang terdekat, sahabat misalnya. Dengan berbagi, beban pikiran Anda akan
terasa lebih ringan. Yang harus dicermati, jangan mencari teman curhat yang
lawan jenis. Carilah teman curhat sesama jenis. Pasalnya, bila Anda bercerita,
mengungkapkan uneg-uneg Anda pada teman pria, belum tentu sepenuhnya ia akan
mendukung Anda untuk kembali bersatu dengan suami. Bisa jadi ia malah menggoda
Anda, dan jika Anda akhirnya benar-benar tergoda, yang muncul akhirnya malah
masalah baru.
8.
Ingat anak
Anak biasanya menjadi senjata
terampuh untuk meredam konflik antara suami-istri. Jadi, bila ternyata antara
Anda dan suami sama¬sama menginginkan perceraian, cobalah ingat anak-anak Anda,
buah cinta kasih Anda dan suami. Ingatlah bahwa mereka masih sangat membutuhkan
Anda dan suami. Apakah mereka harus menjadi korban perceraian karena keegoisan
orang tuanya? Lantas, setelah Anda bercerai, kemana dan kepada siapa mereka
harus ikut, Anda atau suami? Jika Anda menyayangi mereka, pikirkan kembali
keputusan tersebut.
9.
Kesampingkan ego pribadi
Jika Anda memang masih menginginkan
keutuhan rumahtangga, segera buang jauh-jauh ego yang ada dalam diri Anda.
Jangan merasa diri selalu benar dan sealu menyudutkan pasangan, begitu pula
sebaiknya. Sadarilah bahwa apa yang terajadi sekarang adalah kesalahan Anda dan
suami. Kalaupun selama ini ada sakit hati yang terselip, cobalah untuk saling
memberi maaf.
10.
Jujur pada diri sendiri
Jujurlah pada diri sendiri, apakah
Anda sudah siap mental untuk berpisah selamanya dengan suami? Perceraian
tidaklah semudah yang dibayangkan. Berpisah lalu hidup tenang. Tidak selamanya
perceraian membuat kehidupan menjadi bahagia. Bisa jadi justru sebaliknya,
lebih hancur. Banyak masalah-masalah di kemudian hari yang berbuntut panjang.
Mulai anak, harta gono-gini sampai hubungan antar-keluarga yang ikut tidak
harmonis. Jadi, pikirkan kembali jika ingin mengambil keputusan ini. Selain
jujur, Anda juga harus mengedepankan rasio. Perempuan biasanya memang lebih
banyak menggunakan perasaan, namun untuk soal seberat ini jangan hanya
perasaan. Pertimbangkan benar, apa dampaknya bagi Anda dan keluarga jika
perceraian itu benar-benar terjadi.
11.
Banyak berdoa
Banyak berdoa dan mendekatkan diri
pada Yang Maha Kuasa dapat membantu permasalahan Anda. Mintalah petunjuk
dari-Nya. Dengan semakin bertekun dan mendekat kan diri, insya Allah doa Anda
akan terjawab
12.
Buka lembaran baru
Jika Anda dan suami akhirnya bisa
kembali rukun, maka Anda harus siap membuka lembaran baru bersama suami. Jangan
pernah mengungkit-ungkit persoalan dan penyebab Anda berdua pernah berniat
untuk bercerai. Sekali Anda mengungkit-ungkit, bisa jadi Anda akhirnya akan
benar-benar bercerai. Yang paling penting adalah saling mengingatkan dan
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Jika
memang keputusan cerai yang diambil, sebaiknya pertimbangkan masa depan
anak-anak. Jangan sampai perceraian yang terjadi menjadi neraka bagi anak-anak.