Hipnosis dan Hipnotis
Hipnosis adalah
suatu kondisi mental (menurut state theory) atau diberlakukannya peran
imajinatif (menurut non-state theory). Orang yang melakukan proses hipnosis
(memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis (bahasa
inggris:hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang
dikenal sebagai induksi hipnosis, yang
umumnya terdiri dari rangkaian panjang instruksi awal dan sugesti.
Sugesti hipnosis dapat disampaikan oleh seorang hipnotis di hadapan subjek,
atau mungkin dilakukan sendiri oleh subjek (Self-hipnosis).
Penggunaan hipnosis untuk terapi disebut hipnoterapi,
sedangkan penggunaannya sebagai bentuk hiburan bagi penonton dikenal sebagai Stage
hipnosis.
Seringkali kita bertanya-tanya, mungkin banyak dari anda yang pernah
mendengar kata “hipnosis” dan kata “hipnotis”. Apakah kedua kata ini memiliki
arti yang sama? Atau beda? Kali ini saya akan membahas mengenai hal ini dan
menjelaskan kesalahpahaman yang selama ini terjadi.
Hipnosis secara sederhana adalah suatu ilmu atau seni berkomunikasi
dengan alam bawah sadar kita, sedangkan Hipnotis adalah orang yang melakukan
Hipnosis. Dari dua definisi ini, apakah sudah jelas artinya? Sebagai analogi,
Orang yang memainkan piano disebut dengan pianis. Jadi pianis adalah orang yang
memainkan piano.
Karena bahasa media yang seringkali menyebut
hipnosis dengan hipnotis, maka kata-kata hipnotis lebih melekat dalam pikiran
kita. Padahal arti sebenarnya dari hipnotis itu adalah orangnya dan bukan
proses atau ilmunya.
Selain itu, dengan semakin berkembangnya reality show di tayangan
televisi kita, hipnosis terkesan sebagai suatu alat interogasi. Seakan-akan
orang yang dihipnosis tidak memiliki kuasa atas dirinya. Jadi apapun yang
ditanyakan akan keluar dengan sendirinya. Dari semua tayangan yang pernah anda
lihat bahwa hipnosis bisa digunakan untuk interogasi orang, maka saya
mengatakan bahwa hal itu TIDAK BISA!! Mengapa saya katakan tidak bisa? Sekarang
mari kita pikirkan menggunakan logika saja. Misalkan memang hipnosis bisa
digunakan untuk interogasi orang, kenapa salah satu bintang reality show yang
sering kita tonton itu tidak dipanggil saja oleh pihak kepolisian untuk
menginterogasi para koruptor?
SEJARAH
HIPNOSIS
Sejarah hipnosis adalah catatan
tentang perkembangan konsep, keyakinan, dan praktik yang berkaitan dengan
fenomena Trance,
Hipnosis dan
Hipnoterapi
dari zaman prasejarah sampai zaman modern. Karena hipnosis adalah fenomena
alamiah manusia, maka sejarah hipnosis juga berumur setua manusia. Pemanfaatan
Fenomena hipnosis untuk pengobatan sudah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu,
meskipun istilah hipnosis baru pertama kali diperkenalkan oleh James Braid
pada tahun 1842. Braid mengadopsi istilah hipnotisme sebagai suatu kondisi
pikiran (state of mind) subject dan bukan teknik yang diaplikasikan oleh
operator, untuk membedakan pendekatan Braid (yang unik dan berpusat kepada
subjek/klien) dengan para Mesmerist yang berpusat kepada
operator.
HIPNOTIS ALKITABIAH ATAU TIDAK?
Hipnotis! Saat mendengar kata ini, biasanya pikiran kita mengidentikan
dengan hal-hal yang negataif. Namun kini hipnotis ternyata tidak melulu
digunakan untuk hal negative atau aksi kejahatan. Ada juga hipnotis yang
bermanfaat untuk terapi penyembuhan. Seperti yang telah dilakukan di klinik
hipnoterapi milik Romy Rafael salah satu Juri dalam acara The Master, melalui
klinik itu, ia mengaku berhasil mengobati orang kecanduan merokok. Hipnotis
Barat yang dipelajari Romy di Hypnotism Training Institute (HTI) dan State
Hypnotist Institute di Los Angeles selama empat tahun itu tidak berkaitan
dengan black magic. Hipnotis sebagai bagian dari ilmu psikoanalisa justru dapat
dimanfaatkan untuk membantu orang lepas dari kecanduan rokok, narkoba;
mengobati depresi; mengontrol berat badan bahkan melahirkan tanpa sakit.
Bahkan kini hipnotis dijadikan sebagai sesuatu yang fun dan bisa menghibur orang. Misalnya melihat aksi hipnotis yang diperagakan dalam acara The Master, orang tidak merasa lagi takut. Sebaliknya, mereka akan tertawa terpingkal-pingkal melihat korban yang “diperdayai” oleh Para Mentalist untuk melakukan tindakan konyol sesuai permintaannya. Alhasil, masyarakat pun menjadi akrab dengan hipnotis. Bayangan bahwa hipnotis itu seram dan identik dengan kejahatan lambat-laun mencair.
Orang lambat laun mulai akrab dengan aksi-aksi hipnotis, sulap, dan pertunjukan magic. Bahkan beberapa sekolah Kristen memasukan kursus magic di dalam pembelajaran ekstrakulikuler. Anak-anak mulai tertarik dengan trik-trik dan tampilan spektakuler, ditambah dengan film-film yang menyajikan kekuatan magic sebagai hal yang mengasyikan seperti dalam film Harry Poter, Hobbit, dan yang akan muncul lainnya
Dunia hiburan kini tidak lagi didominasi oleh music, lawakan, atau film tapi juga aktraksi-aktraksi spektakuler dari orang-orang yang menyebut dirinya Pesulap, Mentalis, Magicer, dan sebagainya. Bahkan rating dari acara seperti The Master dapat melampaui jauh acara-acara hiburan konvensional lainnya.
Menurut salah seorang pakar hipnotis dalam askinya para Magicer pertama-tama menghilanglan kesadaran alam bawah sadar seseorang yaitu dengan melemahkan kemampuan otak kiri. Otak kiri berfungsi untuk menganalisis dan berhitung. Sementara otak kanan punya kemampuan berkreativitas dan berimajinasi. Ketika kemampuan otak kiri melemah, hal itu membuka kesempatan otak kanan untuk menerima perintah tanpa menganalisisnya lebih dulu. Akibatnya, si penghipnotis bisa memerintahkan subjek melakukan apa saja Dengan begitu, tidak ada jaminan hipnotis tidak membahayakan. Karena subjek berada dalam alam bawah sadarnya, kontrol utama ada pada sang penghipnotis yang akan dengan mudah mengendalikannya. “Disuruh bunuh diri pun akan ia lakukan, apalagi disuruh mencuri atau membunuh,” jelas Ir. Yan Nurindra salah seorang pakar hipnotis.
Intinya praktik hipnotis selalu berurusan dengan alam bawah sadar seseorang, sebab itu praktek hipnotis rentan “disusupi” kuasa lain “.
Bahkan kini hipnotis dijadikan sebagai sesuatu yang fun dan bisa menghibur orang. Misalnya melihat aksi hipnotis yang diperagakan dalam acara The Master, orang tidak merasa lagi takut. Sebaliknya, mereka akan tertawa terpingkal-pingkal melihat korban yang “diperdayai” oleh Para Mentalist untuk melakukan tindakan konyol sesuai permintaannya. Alhasil, masyarakat pun menjadi akrab dengan hipnotis. Bayangan bahwa hipnotis itu seram dan identik dengan kejahatan lambat-laun mencair.
Orang lambat laun mulai akrab dengan aksi-aksi hipnotis, sulap, dan pertunjukan magic. Bahkan beberapa sekolah Kristen memasukan kursus magic di dalam pembelajaran ekstrakulikuler. Anak-anak mulai tertarik dengan trik-trik dan tampilan spektakuler, ditambah dengan film-film yang menyajikan kekuatan magic sebagai hal yang mengasyikan seperti dalam film Harry Poter, Hobbit, dan yang akan muncul lainnya
Dunia hiburan kini tidak lagi didominasi oleh music, lawakan, atau film tapi juga aktraksi-aktraksi spektakuler dari orang-orang yang menyebut dirinya Pesulap, Mentalis, Magicer, dan sebagainya. Bahkan rating dari acara seperti The Master dapat melampaui jauh acara-acara hiburan konvensional lainnya.
Menurut salah seorang pakar hipnotis dalam askinya para Magicer pertama-tama menghilanglan kesadaran alam bawah sadar seseorang yaitu dengan melemahkan kemampuan otak kiri. Otak kiri berfungsi untuk menganalisis dan berhitung. Sementara otak kanan punya kemampuan berkreativitas dan berimajinasi. Ketika kemampuan otak kiri melemah, hal itu membuka kesempatan otak kanan untuk menerima perintah tanpa menganalisisnya lebih dulu. Akibatnya, si penghipnotis bisa memerintahkan subjek melakukan apa saja Dengan begitu, tidak ada jaminan hipnotis tidak membahayakan. Karena subjek berada dalam alam bawah sadarnya, kontrol utama ada pada sang penghipnotis yang akan dengan mudah mengendalikannya. “Disuruh bunuh diri pun akan ia lakukan, apalagi disuruh mencuri atau membunuh,” jelas Ir. Yan Nurindra salah seorang pakar hipnotis.
Intinya praktik hipnotis selalu berurusan dengan alam bawah sadar seseorang, sebab itu praktek hipnotis rentan “disusupi” kuasa lain “.
Alkitab tidak mengungkapkan secara eskplisit tentang alam bawah sadar.
Hal ini mengindikasikan isu alam bawah sadar tidaklah masuk dalam pengajaran
yang Alkitabiah. Di dalam Alkitab kita melihat cara Tuhan bekerja tidak pernah
menghilangkan hak kesadaran seseorang. Setiap manusia diberikan kesempatan
untuk berpikir dan menimbang-nimbang mana yang baik dan buruk, mana yang benar
dan salah. Ini berbeda jauh dengan praktek hipnotis yang menghilangkan
samasekali hak kesadaran sesorang.
Alkitab selalu meminta kita untuk waspada dan berjaga-jaga, dan aktif dalam mencari kehendak Tuhan. Jelaslah hipnotis sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebuah praktek pelecehan terhadap hak kesadaran manusia. Sehingga siapapun yang terlibat baik pemain, sukarelawan, penonton, sama saja menyerahkan hak kesadarannya begitu saja untuk dilecekan oleh para hipnotis. Lalu siapakan dalang dibalik pelecehan terhadap sisi kemanusiaan kita ini, Tanya siapa ????
Alkitab selalu meminta kita untuk waspada dan berjaga-jaga, dan aktif dalam mencari kehendak Tuhan. Jelaslah hipnotis sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebuah praktek pelecehan terhadap hak kesadaran manusia. Sehingga siapapun yang terlibat baik pemain, sukarelawan, penonton, sama saja menyerahkan hak kesadarannya begitu saja untuk dilecekan oleh para hipnotis. Lalu siapakan dalang dibalik pelecehan terhadap sisi kemanusiaan kita ini, Tanya siapa ????
Pandangan Gereja Katolik terhadap hipnotis
Pandangan Gereja Katolik terhadap hipnotis / hypnosis dapat kita lihat dari definisi hipnotisme menurut Kamus Katolik Modern ( http://www.therealpresence.org/dictionary/hdict.htm) yang menyatakan :“Hipnotisme. Fenomena yang menyebabkan tidur secara buatan, yang mengakibatkan sang korban secara tidak normal dapat terbuka untuk mengikuti saran/sugesti. Subyek hipnosis cenderung untuk didominasi oleh ide-ide dan saran-saran dari yang meng-hipnotis, ketika di induksi dengan sugesti atau sesudahnya. Menurut prinsip- prinsip Katolik, hipnotisme sendiri tidak salah, sehingga penggunaannya di dalam kondisi-kondisi tertentu diijinkan. Namun karena hipnotism mencabut sang subyek/ pasien dari penggunaan akal budi dan keinginan bebasnya secara penuh, [maka] diperlukan sebuah sebab yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memperbolehkan hipnotis ini dipraktekkan. Lagipula, sebab hipnotism meletakkan keinginan subyek/ pasien di dalam kuasa dari yang menghipnotis, maka diperlukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menjaga kebajikan subyek/ pasien, dan untuk melindunginya dan orang lain terhadap bahaya menjadi bersalah karena tindakan-tindakan yang dapat melukai. Untuk alasan-alasan yang genting, seperti untuk menyembuhkan seorang pemabuk atau seseorang dengan kelainan yang kompleks ingin bunuh diri, adalah sah untuk menerapkan hipnotism, asalkan dengan tindakan pencegahan bahwa hal itu diadakan dengan kehadiran seorang saksi yang dapat dipercaya, dengan seorang ahli hipnotis yang sungguh-sungguh kompeten dan jujur/ tulus. Ijin dari subyek/ pasien juga harus ada. Beberapa dokumen dari the Holy See menentukan norma-norma yang harus diikuti di dalam penggunaan hipnotism.”(The Holy Office, August 4, 1956; July 26, 1899).
Dari definisi tersebut, kita mengetahui bahwa ada 4 hal yang mendasari sahnya suatu proses hipnotis / hipnosis dilakukan menurut gereja katolik, yaitu :
- Ada alasan yang genting
- Ada ijin dari subjek/pasien
- Ada tindakan pencegahan/precaution untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap subjek/pasiendan terapisnya antara lain dengan menghadirkan saksi yang dapat dipercaya.
- Hipnosis/hipnotis dilakukan oleh ahli hipnoterapi yang kompeten, jujur/tulus.
Kesimpulan pandangan
gereja katolik terhadap hipnotis / hipnoterapi :
Hypnosis
- Gereja Katolik tidak menganjurkan hipnoterapi, bahkan Gereja Katolik menghimbau umatnya agar berhati-hati terhadap praktik hipnotis / hipnoterapi.
- Gereja Katolik mengijinkan (tidak melarang) praktik hipnoterapi untuk dilakukan selama memenuhi 4 hal tersebut di atas. Dalam hal ini hipnoterapi yang diijinkan oleh Gereja Katolik tentunya hipnoterapi yang dilakukan atas dasar ilmu psikologi murni, atau dikenal sebagai “western hypnosis” dengan menggunakan teknik terapi yang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran iman Katolik. Hipnoterapi merupakan bagian dari ilmu psikologi serta sudah diakui oleh British Medical Association, American Medical Association dan American Psychological Association.
- Teknik Past Life Regression yang digunakan oleh sebagian hypnotherapist melibatkan konsep reinkarnasi, dan tentunya bertentangan dengan ajaran iman Katolik. Disinilah pentingnya syarat ke-4 yaitu integritas dan kompetensi hipnoterapis serta syarat ke-3 tentang keberadaan saksi yang dapat dipercaya, sehingga proses terapi yang dilakukan benar-benar tidak bertentangan dengan ajaran iman Katolik.
Jadi Gereja Katolik tidak melarang hipnotis / hipnoterapi karena Gereja Katolik mendukung kesejahteraan manusia, sehingga segala bentuk ilmu pengetahuan dan kedokteran yang mendukung tercapainya kesejahteraan umat manusia (termasuk hipnoterapi), dapat diterima, selama tidak bertentangan dengan ajaran iman Katolik (tidak mengandalkan kuasa gelap/ sejenisnya).